Krisis sepak bola Italia menjadi pembahasan hangat pada sebuah wawancara eksklusif Portugal Football Summit. Mantan CEO AC Milan, Marco Fassone, memberikan pandangan mendalam mengenai peta industri sepak bola modern. Ia menyoroti tiga isu krusial yang sedang dihadapi sepak bola Italia dan global saat ini.
- Fassone menyoroti penurunan jangka panjang kualitas kompetisi domestik Italia (Serie A). Indikator utamanya adalah kegagalan tim nasional Italia menembus tiga edisi Piala Dunia berturut-turut. Selain itu, klub Italia juga kesulitan menjuarai Liga Champions. Inter Milan menjadi klub Italia terakhir yang memenangkannya pada tahun 2010.Menurutnya, krisis ini tidak disebabkan oleh satu faktor saja. Masalah tersebut muncul akibat akumulasi persoalan struktural dalam siklus yang berkepanjangan.
- Como 1907 muncul sebagai fenomena baru yang menarik perhatian Eropa. Klub tersebut berada di bawah kepemilikan investor kaya Grup Djarum dari Indonesia. Como berhasil bertransformasi dari klub yang hampir bangkrut menjadi kekuatan baru yang ambisius di Serie A.Fassone dan sejumlah pengamat industri melihat Como bukan sekadar klub sepak bola biasa. Mereka melihatnya sebagai proyek akselerasi modern. Klub menggabungkan investasi berbasis data, pengembangan infrastruktur, serta pemanfaatan daya tarik wisata dan gaya hidup Danau Como. Pendekatan tersebut menciptakan identitas bisnis yang mandiri dan unik.
- Sebagai konsultan manajemen kepemilikan klub, Fassone membahas maraknya sistem jaringan klub (seperti City Football Group atau BlueCo milik Chelsea). Dari sudut pandang bisnis, ia menilai model ini sangat potensial untuk berhasil jika dijalankan dengan benar.
BACA ARTIKEL LAINNYA : UEFA Nations League hadir untuk Mengisi sepak bola Eropa tetap tinggi saat tidak ada turnamen mayor seperti EURO atau Piala Dunia
Kekeringan penampilan Italia di Piala Dunia
Bagi Fassone, absennya Italia dari tiga Piala Dunia berturut-turut tidak dapat dikaitkan dengan satu penyebab saja. Sebaliknya, ia menunjuk pada penurunan kualitas sepak bola domestik yang sudah berlangsung lama, dengan tidak ada klub Italia yang memenangkan Liga Champions sejak Inter pada tahun 2010.
Ada banyak alasan, bukan hanya satu, katanya .Tetapi ketika Anda memiliki siklus yang begitu panjang, Anda wajib melihat struktur dan aturan sistemnya. Ketika Anda memeriksa data yang tersedia saat ini, Anda melihat bahwa pemain Italia hampir tidak digunakan di Serie A. Produk sepak bola yang dihasilkan oleh Serie A saat ini lemah.
Sistem Bisnis Multi-Klub
Menurut pandangan Marco Fassone di Portugal Football Summit 2026, model multi-klub bukan sekadar tren gaya-gayaan konglomerat untuk mengoleksi klub. Ini adalah strategi efisiensi biaya dan perlindungan finansial.
Model bisnis ini bekerja melalui tiga pilar operasional utama :
- Jalur Karier Terintegrasi,Pemilik dapat membangun jalur karier berjenjang bagi pemain muda. Pemain berbakat dibeli lewat klub kecil di jaringan mereka, diberi jam terbang, lalu secara bertahap dipromosikan ke klub utama saat mereka sudah matang.
- Perlindungan Finansial Silang,Fassone menjelaskan bahwa jika salah satu klub dalam jaringan sedang mengalami kesulitan keuangan atau performa jeblok, pemilik dapat menggunakan mekanisme pinjaman pemain atau transfer internal dari klub di dalam jaringan yang sedang sehat untuk menyelamatkannya.
- Arbitrase Regulasi Global,Setiap negara punya aturan unik. Jaringan MCO memanfaatkan ini dengan menaruh klub satelit di negara yang ramah batasan pemain asing (seperti Portugal untuk bakat Brasil, atau Swiss) untuk menyiasati regulasi ketat di liga utama seperti Premier League atau Serie A.
KESIMPULAN :Krisis sepak bola Italia.Sepak bola modern tidak bisa lagi dikelola hanya dengan pendekatan “olahraga tradisional”, melainkan harus dikelola sebagai korporasi bisnis global berbasis data dan ekosistem terintegrasi.
ARTIKEL LAINNYA :Joaquin Munoz,MALAGA CF,Mengatakan Kompetisi LaLiga Tidak Terlalu Berat untuk Timnya
